Sebuah Tanggapan: Perceraian dalam Pernikahan Kristen? No Go.

Menanggapi sebuah postingan berjudul: “Nasip Wanita Kristen Dilecehkan Yesus dan Bapaknya dalam Alkitab“.

 

Adapun ayat-ayat yang menjadi acuan tuduhan dari yang bersangkutan adalah:

 

1. Matius 5:32

Kesimpulan sepihak:

a. Wanita Kristen bila dicerai suaminya harus selamanya menjadi janda, bila menikah lagi zinah.

b. Pada waktu itu Yesus juga mengatakan: pria Kristen hanya boleh menikahi perawan karena menikahi janda adalah zinah

 2. Ulangan 21:10-13

Kesimpulan sepihak: Pria Kristen boleh free sex dan mengambil wanita sebagai budak sex

 3. Ulangan 21:15-16

Kesimpulan sepihak: Pria Kristen boleh berpoligami

 

 

Berikut penjelasan saya:

Matius 5:32

Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.”

Sebelum masuk pada tinjauan atas Matius 5:32, baiklah kita melihat akan hakikat pernikahan Kristen:

Kehendak Allah bagi pernikahan adalah satu pasangan, satu pernikahan untuk seumur hidup, seperti yang tertera di:

- Kejadian 2:24 “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Dalam konteks Kejadian 2:20, istri yang disediakan Allah bagi Adam adalah penolong yang sepadan dengan dia, dan di ayat 23 Adam menempatkan Hawa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya sendiri, bukan sebagai benda, obyek, atau alat untuk mencapai tujuan. Pernyataan Adam di ayat 23: Inilah dia, tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku, mencerminkan bahwa Adam sudah menemukan penolong yang sepadan dan sekaligus menyatakan penerimaannya yang tulus atas pemberian Allah.

- Matius 19:6 “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia“.

Dengan demikian, alasan ketidak cocokan, tidak memiliki keturunan, atau ekonomi, dan lain-lain tidak dapat dibenarkan sebagai alasan perceraian.

Perceraian memang bukan masalah baru dalam sejarah umat manusia. Kata ini muncul pertama kali dalam kitab Musa (Imamat 21:14, 22:13, Bilangan 30:9, dan Ulangan 24:1-4). Namun meski Musa “mengizinkan” perceraian, ia tidak pernah “menganjurkan” apalagi “memerintahkan” perceraian. Perceraian terjadi semata-mata karena kekerasan hati bangsa Israel (Matius 19:8). Dengan kata lain, Alkitab tidak pernah memaklumi atau mendukung perceraian karena sejak semula perceraian bukanlah rencana Allah. Salah satu referensi adalah di Maleakhi 2:14-16:

Maleakhi 2:14-16 “Dan kamu bertanya: “Oleh karena apa?” Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan istri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan istri seperjanjianmu. Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap istri dari masa mudanya. Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel – juga oran gyang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!”

Kembali kepada perkataan Yesus di Matius 5:32, baiklah kita tengok bahwa perkataan tersebut merupakan bagian dari khotbah Yesus di Bukit yang tercatat dalam sebuah rangkaian khotbah yang panjang (pasal 5 – 7, total: 111 ayat) berisi penyataan dari prinsip-prinsup kebenaran Allah dengan mana semua orang Kristen harus hidup oleh iman kepada Yesus, antara lain: Ucapan bahagia (5:1-12), Garam dan terang (5:13-16), Yesus dan Hukum Taurat  (5:17-20), Hal Membunuh (5:21-26), Hal berzinah (5:27-30), Hal bercerai (5:31-32), Hal bersumpah (5:33-37), Hal mata ganti mata (5:38-42), Hal mengasihi musuh (5:43-48), Hal memberi sedekah (6:1-4), Hal berdoa (6:5-15), Hal berpuasa (6:16-18).

Berkenaan dengan Matius 5:32, memang sering disalah-tafsirkan orang. Mereka menganggap bahwa Yesus menyetujui perceraian atau merestuinya. Padahal, perkataan saat itu tidak dapat dipisahkan dari situasi dialog yang terjadi saat itu. Kata “kecuali” dalam perkataan Yesus itu sebenarnya menunjuk kepada kekerasan hati orang Israel (sehingga Musa mengizinkan perceraian), tetapi sekali-kali Yesus tidak “memerintahkan” perceraian.

Oleh karenanya, Yesus menegaskan, “….siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah”, bandingkan dengan Lukas 16:18, Matius 19:9, Markus 10:11. Hal yang sama juga berlaku untuk peremuan, yakni “Dan jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah (Markus 10:12).

Dari pernyataan tersebut jelas sekali bahwa Yesus tidak pernah menyetujui dan menganjurkan perceraian sebagai cara untuk menyelesaikan kemelut rumah tangga.

Tadi telah disampaikan ayat-ayat pembanding dari Matius 5:32,yakni seperti Matius 19:9. Berikut cuplikan ayat tersebut: “Tetapi Aku berkata kepadamu, Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zinah lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”

Yesus mengerti betul bahwa maksud dari perkataan-Nya itu akan menuai pendapat yang berbeda-beda, dan karenanya, di ayat ke 11-12, di mana Ia berkata: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu hanya mereka yang dikaruniai saja… Siapa yang megerti hendaklah ia mengerti.”

Terhadap peraturan ini, karena didasarkan atas kekerasan hati orang Israel, Yesus memberikan satu perkecualian, yaitu “zinah”. Perzinahan (dlm bahasa Yunani: poerneia, dalam bahasa Inggris: fornication) meliputi segala macam bentuk kebejatan seksual. Oleh karena itu, perceraian diizinkan apabila telah terjadi kebejatan seksual.

Berikut ini ada fakta alkitabiah yang penting mengenai perceraian:

(1) Ketika Yesus mengecam perceraian dalam ayat di Matius 19:7-8, yang dikecam bukanlah perpisahan karena zinah, melainkan perceraian yang diizinkan dalam masa Perjanjian Lama (PL). Yesus menginginkan agar dalam kasus semacam itu pasangan suami istri tetap bersatu. Akan tetapi, Ia mengizinkan perceraian dalam kasus semacam itu karena manusia sudah keras hatinya.

(2) Dalam kasus perzinahan sesudah pernikahan, hukum PL mengizinkan terputusnya hubungan pernikahan itu dengan menghukum mati kedua belah pihak yang bersalah (Imamat 20:10, Ulangan 22:22). Tentu saja, hal ini akan membebaskan orang yang tidak berdosa untuk menikah kembali.

Roma 7:2 “Sebab seorang istri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suami itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu.”

1 Korintus 7:39 “Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya.

(3) Di bawah perjanjian yang baru syarat-syarat bagi orang percaya sama saja. Sekalipun perceraian adalah peristiwa yang menyedihkan, ketidaksetiaan dalam hubungan pernikahan merupakan dosa yang begitu kejam terhadap pasangan dalam pernikahan.

 

Dengan demikian, kesimpulan-kesimpulan sepihak yang dituduhkan adalah tuduhan yang sama sekali tidak perlu, sebabYesus menolak perceraian, karena perceraian bukan merupakan kehendak Allah.

Adalah hal yang amat menggelikan ketika klaim yang diajukan pun menggunakan judul “Nasip Wanita Kristen Dilecehkan Yesus dan Bapaknya” dengan mengambil sepotong-sepotong ayat tanpa memahami konteks penulisan secara menyeluruh. Dalam konteks pernikahan, Yesus jelas dan tegas menolak perzinahan, perceraian dan poligami.

Di dalam Kristus tidak ada pelecehan terhadap wanita  karena iman Kristen tidak pernah mengajarkan suami untuk memukul istri (Kolose 3:18-19, Efesus 5:25-33), tidak ada penilaian bahwa status perempuan (istri) ada satu derajat lebih rendah dari laki-laki (Galatia 3:28-29). Karena Yesus menolak perceraian dan poligami, maka Ia tidak pernah memberikan perintah kepada pria untuk beristri lebih dari satu serta pengaturan penggiliran isteri.

Mengenai perzinahan, Yesus mengambil langkah yang lebih esktrim dengan menyebutkan “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya…. jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkilah dan buanglah itu.” Yesus mengharuskan setiap laki-laki untuk mengontrol tingkah-lakunya.  Dari sini kita tahu bahwa Yesus membela kaum perempuan bukan menyalahkan mereka (sehingga tidak ada perintah Yesus bahwa perempuan harus mengenakan pakaian tertentu supaya tidak diganggu oleh kaum pria). 

Menjadi orang Kristen memang tidak mudah, karena menuntut kesetiaan kepada kehendak Allah termasuk kesetiaan kepada komitmennya terhadap pasangan hidupnya untuk hidup bersama dalam bahtera kasih Allah. Komitmen ini juga mengajarkan kepada pasangan tentang nilai-nilai pengampunan yang diajarkan dan diejawantahkan dalam Pribadi Yesus Kristus. Seberat apapun pelanggaran yang dilakukan oleh pasangan dalam pernikahan, ketika mengingat Pribadi Agung tersebut, maka setiap insan dikuatkan untuk memberikan pengampunan dan kasih mesra seperti yang Allah telah tunjukkan melalui Yesus Kristus.

Gereja mempersiapkan pasangan yang akan menikah melalui serangkaian konseling pra-nikah untuk membekali mereka dengan matang untuk dapat menerima keadaan terburuk atau membina rumah tangga yang permanen. Pernikahan Kristen diberkati di gereja dan dilakukan di hadapan Allah dan jemaat sebagai saksi dilakukan agar kesetiaan kepada janji iman kepada Allah dimanifestasikan juga kepadaa janji nikah kepada pasangannya dan jemaat sebagai saksi pernikahan bertugas untuk mengambil peran dalam mendukung pasangan baru tersebut di dalam persekutan berkesinambungan di gereja dan menjalani pengalaman iman bersama-sama untuk saling menguatkan.

Mengenai klaim sepihak lainnya yang bersumber dari kitab-kitab di Perjanjian Lama, dengan sendirinya gugur karena yang disebut sebagai orang Kristen adalah pengikut Yesus Kristus yakni mereka yang beriman dan hidup sesuai dengan ajaran Kristus, bukan pengikut Musa.

Sekian dan Tuhan Yesus memberkati.

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s