PASKA, Apakah itu?

Kata Paskah yang kita kenal berasal dari bahsa Portugis: Pasca, yang dikembangkan dari bahasa Ibrani Pesakh yang berarti “lewat”. Yang lewat itu adalah malaikat maut, yang dilewati adalah maut itu sendiri. Kata Ibrani Pesakh, dalam bahasa Yunani disebut Paskha.

Sejak keluarnya bangsa Israel dari Mesir sekitar tahun 1445 SM, orang Ibrani (yang kemudian disebut Yahudi) telah merayakan Paskah setiap tahun pada musim semi (umumnya dekat dengan Jumat Agung dan Paskah yang dikenal oleh umat Kristen sekarang).

Setelah menjadi budak di Mesir selama lebih dari 400 tahun, Allah menetapkan untuk melepaskan keturunan Abraham, Ishak dan Yakub dari perbudakan. Ia mengutus Musa untuk mendatangkan berbagai tulah kepada Mesir namun Firaun masih tetap tidak bersedia melepaskan bangsa Israel. Pada tulah ke-10 lah (Keluaran 12) Allah mengharuskan orang Mesir untuk membiarkan orang Israel pergi.  Tulah ke-10 adalah ketika Allah memerintahkan malaikat maut untuk mengambil nyawa setiap anak sulung (baik orang Mesir maupun hewan piaraan mereka).

Bagaimana dengan nasib orang Israel yang tinggal di Mesir? Bagaimana Allah mengenali mana anak sulung dari bangsa Israel dan yang mana dari bangsa Mesir? Tuhan memberi perintah bagi setiap keluarga Israel untuk menyembelih seekor anak domba jantan berumur 1 tahun yang tidak bercela pada saat senja, tanggal 14 bulan Abab, keluarga yang kecil dapat berbagi anak domba sembelihan. Sebagian darah anak domba itu harus dipercikkan ke tiang-tiang pintu dan ambang atas rumah mereka, sehingga ketika malaikat maut lewat, mereka terlewati dari cengkeraman maut.  Allah memerintahkan tanda darah bukan karena Ia tidak mampu mengenali umatNya sendiri, namun Ia mengajarkan pentingnya ketaatan bagi bangsa Israel dan pentingnya penebusan darah melalui domba tak bercacat itu.

Pada malam itu juga bangsa Israel harus bersegera untuk berangkat keluar dari Mesir. Mereka harus memanggang domba sembelihan, menyediakan sayur pahit dan roti tidak beragi. Ketika malam tiba, mereka bersiap menyantap makanan itu dan berangkat keluar dari Mesir.

Sejak saat yang bersejarah itu, umat Israel senantiasa merayakan Paskah setiap tahun. Ketika Bait Suci selesai dibangun, Allah mmerintahkan bahwa perayaan Paskah dan penyembelihan anak domba dilaksanakan di Yerusalem (Ulangan 16:1-6, 2 Raja-raja 23:21-23; 2 Tawarikh 30:1-20; 35:1-19, Ezra 6:19-22).

Orang Yahudi di masa Perjanjian Baru juga merayakan Paskah. Alkitab mencatat bahwa orang tua Yesus pernah mengajakNya merayakan Paskah di Yerusalem ketika usiaNya 12 tahun (Lukas 2:41-50). Kemudian hari Yesus secara rutin pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah (Yohanes 2:13), perjamuan terakhirNya dengan para murid di Yerusalem, sesaat sebelum disalib juga merupakan perjamuan Paskah (Matius 26:1-2, 17-29). Yesus sendiri disalibkan pada hari raya Paskah (hari raya Yahudi itu).

Orang-orang Yahudi saat ini masih merayakan Paskah, tradisi mereka itu, walaupun sifatnya sudah agak berubah, karena Bait Suci sudah tidak ada lagi di Yerusalem. Mereka merayakannya di rumah-rumah dan secara turun-temurun menceritakan kedahsyatan kuasa Allah dalam penyelamatan keluaran mereka dari Mesir.

Kembali melihat pada arti kata Pesakh, atau Pasca, yang berarti “lewat”, bila menggunakan kaidah bahasa Indonesia, seharusnya kita menggunakan kata Paska, seperti yang biasa digunakan pada frasa paska-kelahiran, paska-pelembagaan, dan lain sebagainya. Namun, dalam kaidah teologis, gereja tetap memilih untuk menggunakan kata Paskah.

Dalam kalender gereja, terdapat Trihari Paskah terdiri atas Jumat Agung, Sabtu Teduh, dan Paskah.

Jumat Agung merupakan peringatan kematian Yesus di kayu salib, di Golgota. Bahwa Yesus bersedia mengorbankan tubuh dan darahNya untuk menebus dan menyelamatkan manusia seisi dunia.

Darah anak domba tak bercacat yang dipercikkan di tiang-tiang dan ambang pintu rumah pada zaman perbudakan di Mesir dimaksudkan untuk menyelamatkan umat Israel dari maut, begitupun dengan darah Yesus yang tidak bernoda bagi keselamatan kita manusia.

Memakan domba sembelihan saat malam ketika bangsa Israel bersiap keluar dari Mesir merupakan pemanunggalan masyarakat Israel dengan korban/kematian anak domba itu, kematian yang menyelamatkan mereka dari kematian jasmaniah (mengenyangkan mereka untuk mempersiapkan fisik mereka berangkat keluar dari Mesir). Umat Kristen memaknai pemanunggalan itu melalui Perjamuan Kudus yang dilakukan dalam ibadah Jumat Agung.

Sabtu Teduh jatuh pada Hari Ketujuh, Hari Sabat, Hari Perhentian, Hari Istirahat, dan Tubuh Yesus terbaring di kubur.

Paskah yang dirayakan umat Kristiani (gereja) memiliki pemaknaan yang berbeda dengan yang dirayakan oleh bangsa Yahudi (Pesakh). Paskah Kristen berarti hari kebangkitan Yesus Kristus, bukti Ia telah menang dan melewati kematian/maut. Paskah pertanda penggenapan keselamatan Allah. Berdasarkan pemahaman ini, Paskah jatuh pada Hari Pertama (Arab: Akhad, Ibrani: Ekhad – referensi teologisnya ada di Kejadian 1:5, Matius 28:1, Markus 16:2, Lukas 24:1, Yohanes 20:1). Hari Pertama adalah Hari Minggu. Kata “Minggu” berasal dari bahasa Portugis Dominggu(s) dan Latin Dominus, yang berarti Tuhan. Karena itu Hari Minggu adalah hari Tuhan. Berdasarkan spirit Paskah, sebagai hari kemenangan Kristus atas maut, maka umat Kristiani merayakan dan menghayati karya penebusan Allah itu melalui persekutuan umat Allah dalam ibadah-ibadah Minggu sepanjang tahun.

Bila Allah dulu mengeluarkan Israel dari Mesir bukan karena mereka itu layak, namun karena Ia mengasihi mereka dan setia kepada perjanjianNya dengan Abraham. Demikian pula keselamatan yang kita terima dari Kristus ialah melalui karunia-Nya yang menakjubkan itu.

Paskah adalah hari raya utama dalah Kekristenan karena merupakan titik tolak iman orang percaya (I Korintus 15:14).

Paskah Kristus berarti Ia telah menyelamatkan umatnya melewati perbudakan maut, dengan menjadikan diri-Nya sendiri anak domba Paskah, dan manusia boleh berjalan dalam ketaatan dan iman kepada Allah Bapa. Paskah Kristus melalui kebangkitan-Nya membuktikan bahwa kematian Yesus cukup untuk membayar segalanya, dan penyelamatan-Nya melalui kebangkitan dari alam maut dilakukan “menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Efesus 1:7). Sebuah harga penebusan yang mahal. Itulah kasih Kristus. Tour de grace.

Selamat menyongsong dan merayakan Paskah. Tuhan telah menebusmu.

Sumber:

– Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan

– Tata Ibadah GPIB – Buku I, 2A, Ketetapan Persidangan SInode XIX – GPIB

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s