Natal: “Happy Birthday, Jesus”?

Kalau ditanya hari raya apa yang paling ditunggu-tunggu selama satu tahun, saya yakin banyak dari kita yang menjawab: NATAL! Tak bisa dipungkiri, Natal menjadi saat yang paling membawa sukacita bagi banyak kalangan Kristen. Namun, ternyata sukacita itu tidak hanya menjadi bagian kita, tapi bagi banyak orang yang non-Kristen sekalipun. Ya, karena Natal sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat global. Natal menjadi sebuah masa raya di penghujung tahun bagi banyak orang, tanpa batas usia, bangsa, dan agama atau keyakinan. Hari raya ini identik dengan lampu kerlap-kerlip dan ornamen yang menghiasi pohon-pohon cemara dalam beragam ukuran dan warna yang ditempatkan di banyak tempat publik, tidak hanya di gereja atau rumah-rumah orang Kristen.

Lagu-lagu sekuler (tanpa kandungan unsur teologis/doctrinal) bernuansa Natal kerap diputar dan disenandungkan oleh banyak orang. Sebut saja Jingle Bells, Have Yourself a Merry Little Christmas, I’m Dreaming of a White Christmas dan We Wish You A Merry Christmas. Siapa yang tidak kenal dengan lagu-lagu tersebut?

Dalam sebuah survey di debate.org. (sebuah situs terkemuka yang dibuat khusus bagi penggemar debat), 76% pendebat mengatakan setuju pada pertanyaan “Can you celebrate Christmas if you are not Christian?” (Bolehkah anda merayakan Natal padahal kamu bukan orang Kristen?), sementara 24% lainnya tidak. Salah satu yang setuju menulis seperti ini: “Bukankah Natal itu adalah tentang kelahiran Yesus? Hadiah ulang tahun terbaik yang dapat diberikan bagi Dia adalah mengasihi satu dengan yang lain. Yesus berkata di Alkitab bahwa dia mengajak semua orang untuk mengikut Dia. Lalu, kenapa hal itu tidak kita lakukan saat ulang-tahunNya? Meskipun Anda bukan Kristen, saya katakana bahwa Anda berhak merayakan hari Natal karena tak ada yang boleh menghentikan Anda melakukannya. Itu hak Anda.;)”

Untuk yang tidak setuju dalam debat dengan topic tersebut, ada sebuah argumen menarik yang disampaikan, yakni “Saya tidak mengerti mengapa non-kristen merayakan Natal, karena hakikinya Natal adalah hari besar merayakan kelahiran Yesus Kristus. Kita memberikan kado pada perayaan Natal karena Tuhan telah lebih dulu memberikan kado terbaik dalam hidup umatNya, yakni Anak-Nya yang tak berdosa untuk mati bagi kita. Orang non-Kristen yang ikut-ikutan merayakan Natal itu seperti orang Kristen yang merayakan Waisak padahal bukan penganut agama Budha, atau merayakan Hanukkah padahal bukan orang Yahudi.”

Wuih….melihat perdebatan seputar perayaan Natal memang seru ya. Kita tak perlu ikut-ikutan kaget atau resah mengenai hal itu kok, karena memang suka atau tidak, Natal memang membawa ‘rasa’ tersendiri bagi banyak orang, terlepas keyakinan mereka.

Nah, untuk kita sendiri, apa yang kita tahu seputar tanggal ‘keramat’ 25 Desember itu dan mengapa tanggal itu ditunjuk sebagai hari Natal? Sebetulnya….Natal itu apa ya?

Kata “Natal” adalah bahasa Portugis, yang berasal dari bahasa Latin Natalis, lengkapnya Dies Natalis, yang berarti Hari Lahir. Latar belakang historis perayaan Natal sebagai ‘hari kelahiran’ Yesus Kristus ini tidak akan kita temukan dalam Alkitab. Tidak ada tanggal ataupun musim yang menyebutkan persis kala mana Dia lahir.

Sumber historis yang digunakan oleh banyak kalangan, termasuk GPIB, adalah tradisi merayakan Dies Natalis Sol Invictus (Hari Lahir Sang Matahari yang tak terkalahkan) yang dilakukan di Kerajaan Romawi sampai abad ke-4 pada setiap tanggal 25 Desember (saat musim dingin). Pengertiannya dihubungkan pula dengan penyembahan kaisar sebagai dewa matahari, dan demi kehormatan sang kaisar sebagai “tuhan” maka pada abad ke-3 menetapkan hari kelahirannya pada tanggal 25 Desember. Masyarakat Romawi berpesta dan saling bertukar hadiah dan mendekorasi rumah dengan meriah. Setelah Kaisar Konstantin menjadi Kristen di tahun 332 Masehi, Kristen menjadi agama resmi di Kerajaan Roma. Di tahun 336 M, Kaisar Konstantin menetapkan tanggal 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus Kristus, berdasarkan nubuat yang tertulis di Maleakhi 4:2a “Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya.”

Sumber lainnya, yang sedikit kurang populer menyebutkan bahwa tanggal 25 Desember ini berkaitan dengan winter solstice (masa dalam setahun di mana hari-harinya pada saat siang lebih pendek dari malam), berdasarkan teori yang dikemukakan seorang sejarahwan Roma bernama Sextus Julius Africanus. Dalam konteks tersebut, ia mengemukakan Natal dipahami sebagai kristenisasi atas perayaan titik balik matahari pada musim dingin – Kristus adalah matahari kebenaran.

Ada pula perhitungan tanggal kelahiran Yesus yang bertitik tolak dari Lukas 1:26. Jikalau Tahun Baru Yahudi (awal bulan Tisyri) jatuh pada sekitar awal Oktober, maka bulan keenam jatuh sekitar bulan Maret. Apabila malaikat Gabriel datang kepada Maria pada akhir bulan keenam itu, maka akhir Desember (menurut kalender Gregorian atau Masehi yang kita pakai) adalah 9 bulan sesudahnya. Namun menurut kalender Yahudi, bulan keenam dapat dihitung dari Paska, sehingga kelahiran Yesus terjadi pada musmim panas dan kandang di Betlehem sedang kosong karena domba-domba dapat bermalam di alam terbuka.

Terkait dengan ketidak-pastian tanggal kelahiran Yesus tersebut, maka gereja mula-mula menyepakati suatu rentang waktu untuk kelahiran Yesus, yaitu antara tanggal 25 Desember sampai 6 Januari.

Duh! membingungkan ya? Lantas, pertanyaan ini kembali mengemuka, “jadi sebetulnya Yesus lahir tanggal 25 Desember atau tidak”?

Mari merenungkan bahwa issue seputar tanggal persisnya Tuhan Yesus lahir tidak sepenting peristiwa lahirnya Sang Juruselamat itu sendiri; bahwa yang kita rayakan bukanlah birthday Yesus Kristus, tapi peristiwa kelahiran-Nya yang membawa terang bagi dunia gelap yang diselimuti dosa.

Ya, sebuah perayaan bahwa Yang Mahasuci itu bersedia menghinakan Diri-Nya, mengambil rupa sebagai manusia sama seperti kita, lahir dalam keadaan tertolak oleh para pemilik penginapan di kota kecil Betlehem dan kemudian lahir juga dalam keterhinaan ketika lahirnya Ia hanya ditempatkan di sebuah palungan (tempat makan hewan ternak).

Peristiwa kelahiran Yesus merupakan penggenapan dari banyak janji-janji Allah melalui nubuat para nabi. Natal adalah bukti bahwa Allah adalah TUHAN yang menyelamatkan. Dalam kerangka kasih Allah, maka Ia selalu mengerjakan keselamatan bagi umat manusia, umat yang dibuat dalam gambar dan rupa-Nya.

Natal berarti proklamasi akan rekonsiliasi hubungan Allah dan manusia yang telah rusak dan poranda karena dosa. Proklamasi yang dinyatakan malaikat kepada para gembala 2000 tahun lalu adalah proklamasi yang sama sampai saat ini, bahwa peristiwa kelahiran Yesus merupakan kesukaan besar bagi seluruh bangsa (bukan terbatas hanya orang Yahudi saat itu atau orang-orang Kristen).

Natal berarti kepedulian kepada yang tersingkirkan. Ketika kabar itu disampaikan malaikat Tuhan kepada para gembala yang memiliki status sosial rendah menunjukkan kasih Allah yang berdaulat memilih mereka yang tersingkirkan secara sosial sebagai yang terdahulu menerima sukacita yang dinanti-nantikan. Tantangan untuk kita apakah kita mau mengambil teladan yang Allah kerjakan, yakni membawa sukacita kepada mereka yang tersingkirkan secara sosial? Ya, mereka kaum papa yang hanya mengharapkan bantuan orang untuk dapat bertahan hidup, atau mereka yang kerap kita bully tanpa sebab, atau orang-orang tua renta yang kita anggap hanya sebagai beban, atau teman-teman kita yang rendah diri tapi kita memilih tidak perduli.

Natal berarti keterpanggilan untuk terus memulialkan Allah sebagai wujud ungkapan syukur. Jika malam itu, para gembala menyaksikan malaikat bersama bala tentara surga memuji-muji Allah merayakan lahirnya Sang Juruselamat, maka kita saat ini pun merayakan hal itu dalam spirit yang sama di sepanjang musim dan waktu. Rasa terimakasih kita bagi Tuhan bukanlah melalui ungkapan “Happy Birthday, Jesus!” melalui twitter atau facebook, karena Tuhan tidak memerlukan ucapan-ucapan semacam itu. Saat lahirnya Yesus, para malaikat pun tidak mengucapkan “Congratulations, God!” atau “Selamat, Anda sudah lahir!”, namun menyatakannya melalui pujian “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Mengutip pernyataan seorang tokoh Kristen yang juga aktivis Hak Asasi Manusia kulit hitam di Amerika yakni Martin Luther King Jr.: Darkness cannot drive out darkness; only light can do that. Hate cannot drive out hate; only love can do that (Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan, hanya terang yang dapat melakukannya. Kebencian tidak akan mengusir kebencian, hanya kasih yang sanggup melakukannya), mari perkenalkan kemuliaan Tuhan Yesus yang penuh kasih itu bagi mereka yang masih terselimuti kegelapan. Hadirkan terang. Bawalah damai sejahtera dan sukacita bagi mereka, tidak hanya saat Hari Natal namun di sepanjang perjalanan hidup kita.

Selamat Hari Natal; selamat menjadi terang!

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s