Revisiting The Lent Season

Masa Prapaskah adalah masa ‘retreat’ pribadi dan umat. Masa berisi pertobatan, pemeriksaan batin (refleksi) berisi doa dan kontemplasi, juga berpantang diri (puasa) dalam rangka mempersiapkan hati umat untuk perayaan penebusan melalui kebangkitan Yesus Kristus (Paskah). Masa ini dilangsungkan selama 40 hari, seperti yang terjadi pada masa Nuh di mana air bah meliputi bumi, masa ketika Musa berdiam di Gunung Sinai, dan masa ketika Yesus berpuasa selama 40 hari dan 40 malam lalu dicobai iblis di padang gurun.

Rabu Abu mengawali kalender liturgi Masa Prapaskah. Banyak umat Kristen Protestan yang mungkin mempertanyakan mengapa kaum Protestan perlu melaksanakan ibadah Rabu Abu, bukankah itu ritus Katolik Roma? Apakah tujuan Rabu Abu itu sesungguhnya? Seberapa pentingkah masa Prapaskah ini diperingati bagi kaum Protestan? Haruskah kita mengorbankan sesuatu untuk masa Prapaskah itu?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengemuka di benak banyak umat Protestan, tidak hanya di Indonesia, namun juga di banyak belahan dunia lainnya. Melalui reformasi yang diadakan di banyak gereja-gereja Protestan di dunia, masa Prapaskah kini bukan lagi dianggap ‘ornamen’ dalam kalender liturgi Kristiani, namun menjadi salah satu masa terpenting bagi umat untuk mempersiapkan hati menyongsong hari Paskah yang mulia itu.

Masa prapaskah yang berlangsung selama 40 hari ini juga merupakan masa berkabung atas dosa-dosa pribadi maupun umat. Sayangnya, banyak gereja yang tidak membawa umatnya memfokuskan diri pada masa berkabung ini, masa di mana dosa-dosa umat dilunasi melalui penyiksaan brutal terhadap Yesus Kristus. Adalah mustahil bila umat diajak bersuka ria pada kebangkitan Yesus jika tidak mengalami penyesalan dan perkabungan atas dosa-dosanya dan pertobatan menyeluruh setelah pelunasan dan penebusan dikerjakan secara cuma-cuma tapi sempurna oleh Yesus Kristus.

Diawali dengan Rabu Abu dan berakhir pada Sabtu petang sebelum Minggu Paskah (hari Minggu pada masa Prapaskah tidak diperingati sebagai masa Prapaskah). Hari-hari Minggu pada masa Prapaskah tetap diperingati sebagai perayaan mingguan atas karya keselamatan Kristus melalui kebangkitan-Nya. Banyak denominasi Kristen Protestan yang sekarng mendorong umatNya untuk membaharui dan memperkuat iman mereka melalui masa Prapaskah ini. Banyak yang dapat dikerjakan untuk mengisi masa-masa meditatif ini, seperti: jam-jam doa khusus, Bible Study, berpuasa, pelayanan kasih (pengorbanan) dan kebaktian/ibadah-ibadah.

RABU ABU

ini adalah titik awal dari masa Prapaskah. Sejak berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi tanda perkabungan juga pertobatan. Misalnya dalam kitab Ester dan Yunus. Bapa Pius Paarsch dalam bukunya “The Church’s Year of Grace“, menyatakan bahwa Rabu Abu pertama terjadi di Taman Eden, setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan keduanya bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. (Kejadian 3:19).

Ibadahnya kaya akan ritual dan simbol-simbol. Abu yang dikumpulkan dari pembakaran daun-daun palma pada masa Prapaskah tahun sebelumnya digunakan dalam ibadah Rabu Abu sebagai simbol penyerahan diri kepada kuasa Allah. Umat maju ke depan untuk ditandai dahi mereka dengan abu seraya Majelis atau Pendeta membacakan Kejadian 3: 19. Dengan kata-kata tersebut, umat diingatkan akan mortalitasnya, dan tanda salib yang dibuat dari debu/abu di dahi, umat diingatkan akan pengharapan akan kebangkitan kembali. Rabu Abu merupakan titik awal Masa Prapaskah dan menyediakan waktu bagi umat Kristiani untk mengeksplorasi misteri dari Injil dan menghayati hidup baru di dalam Kristus.

MINGGU PALMA

Saat tersebut adalah hari peringatan dalam liturgi gereja Kristen yang selalu jatuh pada hari Minggu sebelum Paskah. Perayaan ini merujuk kepada peristiwa yang dicatat pada empat Injil, yaitu Markus 11:1-11, Matius 21:1-11, Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19. Dalam perayaan ini dikenang peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem sebelum Ia disalibkan. Masuknya Yesus Kristus ke kota suci Yerusalem adalah hal yang istimewa, sebab terjadinya sebelum Yesus mati dan bangkit dari kematian. Itulah sebabnya Minggu Palma disebut pembuka pekan suci, yang berfokus pada pekan terakhir Yesus di kota Yerusalem.

Dalam liturgi Minggu Palma, umat dibagikan daun palem dan ruang gereja dipenuhi ornamen palem.
• Awal dari Pekan Suci.
• Peringatan tentang masuknya Mesias ke Yerusalem.
• Ibadah biasanya mencakup pembacaan kisah penderitaan – kisah penangkapan Yesus, penderitaan dan kematiannya.
Gereja merayakan masuknya Kristus ke Yerusalem untuk menggenapi misteri paskahnya, ketika menurut Kitab-kitab Injil Yesus dengan rendah hati mengendarai seekor keledai masuk ke Yerusalem. Hal ini mengingatkan akan prosesi kemenangan Daud dan rakyat meletakkan daun-daun palma di tanah di hadapannya.
 KAMIS PUTIH

Hari Kamis sebelum Minggu Paskah adalah hari untuk mengingat kembali Perjamuan Malam terakhir antara Yesus dan murid-muridNya. Kisah Yesus memecah-mecah dan memberkati roti pada jamuan Paskah, merupaan pengingat akan tubuhNya yang diberikan secara cuma-cuma bagi umat Kristiani, seperti yang disaksikan pada kitab Matius, Markus, dan Lukas. Kisah Yesus membasuh kaki para murid adalah pengingat akan kerendahan-Nya yang radikal untuk menjadi pelayan bagi umatNya dan dibuktikan secara sempurna di kayu salib.

 

JUMAT AGUNG

Hari Jumat sebelum Minggu Paskah adalah waktu untuk mengingat akan penyaliban dan kematian Yesus. Banyak yang bertanya-tanya mengapa hari ini disebut “Good Friday”. Istilah “good” dalam GOOD FRIDAY menginatkan umat Kristiani akan kehidupan Yesus yang tidak bercela, baik dan taat. Beberapa gereja melakukan ibadah mereka antara jam 12 sampai jam 3 sore untuk memeringati jam-jam kematian Yesus Kristus, yakni ketika langkit menjadi gelap gulita saat Yesus menderita menahan siksa dan mati. Banyak pula jemaat yang mendasarkan liturgi ibadah Jumat Agung-nya pada kata-kata terakhir Yesus di kayu salib.

 

SABTU SUNYI/SABTU TEDUH

Bahasa Latin untuk hari khusus ini adaah Sabbatum Sanctum – Hari Sabat Suci. Sabtu Teduh (sebagaimana GPIB menyebutnya) merupakan hari tenang pada Pekan Suci yang dilaksanakan oleh orang Kristen sebagai persiapan perayaan Paskah. Hari Sabtu Teduh merupakan saat di mana tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur setelah wafat pada hari Jumat Agung.

Kegiatan lainnya yang dilakukan pada masa Prapaskah adalah “Tenebrae”, yang diambil dari bahasa latin, yang berarti “bayangan” atau “kegelapan”. Hal yang unik dari ibadah Tenebrae ini adalah meniup satu per satu lilin sampai seisi ruangan ibadah menjadi gelap gulita. Kegelapan itu menandakan waktu/hari ketika Yesus berada di dalam kubur. Ibadah ini dapat diadakan pada Kamis Putih, Jumat Agung, atau Sabtu Teduh. Bacaan Alkitab yang dipakai pada ibadah ini biasanya terambil dari Injil tentang Perjamuan Terakhir sampai penyaliban Yesus, termasuk kata-kata terakhir Yesus di kayu salib. Ibadah diakhiri dengan penyalaan satu lilin, untuk mengingatkan kepada jemaat bahwa kegelapan tidak akan berkuasa, dan Terang Paskah akan bersinar kembali.

 Kesimpulan

Banyak umat Kristiani dan gereja yang tidak mempersiapkan masa Prapaskah ini dengan sungguh-sungguh dan bahkan menghilangkan elemen-elemen pembentukanya, sehingga terjadi distorsi dalam pengenalan mereka akan “Passion of Christ”, atau penderitaan Yesus (karena kasihNya) itu.

Dalam kaitannya dengan berpuasa, maka Masa Prapaskah adalah ‘perjalanan’ selama 40 hari bagi setiap umat untuk:

✓ Berpuasa terhadap kemarahan, dan membuka diri untuk kesabaran

✓ Berpuasa terhadap kekecewaan, dan membuka diri untuk pengharapan

✓ Berpuasa terhadap pementingan diri, dan membuka diri untuk mengasihi orang lain

✓ Berpuasa terhadap kemalasan, dan membuka diri untuk pertumbuhan yang luar biasa

✓ Berpuasa terhadap kemalasan, dan membuka diri untuk antusasme

✓ Berpuasa terhadap kepedihan, dan membuka diri pada kesuka-citaan

✓ Berpuasa terhadap ketidaktulusan, dan membuka diri untuk kejujuran

✓ Berpuasa terhadap kekurangan, dan membuka diri untuk kebercukupan

✓ Berpuasa terhadap kebencian, dan membuka diri untuk pengampunan

✓ Berpuasa terhadap individualisme dan membuka diri bagi kesetiakawanan

 

GPIB memuat SIKLUS PASKAH di atas dalam buku TATA IBADAH I, 2A. Mengingat pentingnya masa ini bagi umat dan gereja untuk melakukan persiapan batin pribadi dan umat demi menyongsong mulianya Minggu Paskah, maka jemaat GPIB sudah seharusnya dapat merespon kebutuhan tersebut untuk melaksanakan masa Prapaskah dengan lebih matang dan bukan sekedar mengikuti tradisi gereja semata.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s