Revisiting The Lent Season

Masa Prapaskah adalah masa ‘retreat’ pribadi dan umat. Masa berisi pertobatan, pemeriksaan batin (refleksi) berisi doa dan kontemplasi, juga berpantang diri (puasa) dalam rangka mempersiapkan hati umat untuk perayaan penebusan melalui kebangkitan Yesus Kristus (Paskah). Masa ini dilangsungkan selama 40 hari, seperti yang terjadi pada masa Nuh di mana air bah meliputi bumi, masa ketika Musa berdiam di Gunung Sinai, dan masa ketika Yesus berpuasa selama 40 hari dan 40 malam lalu dicobai iblis di padang gurun.

Rabu Abu mengawali kalender liturgi Masa Prapaskah. Banyak umat Kristen Protestan yang mungkin mempertanyakan mengapa kaum Protestan perlu melaksanakan ibadah Rabu Abu, bukankah itu ritus Katolik Roma? Apakah tujuan Rabu Abu itu sesungguhnya? Seberapa pentingkah masa Prapaskah ini diperingati bagi kaum Protestan? Haruskah kita mengorbankan sesuatu untuk masa Prapaskah itu?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengemuka di benak banyak umat Protestan, tidak hanya di Indonesia, namun juga di banyak belahan dunia lainnya. Melalui reformasi yang diadakan di banyak gereja-gereja Protestan di dunia, masa Prapaskah kini bukan lagi dianggap ‘ornamen’ dalam kalender liturgi Kristiani, namun menjadi salah satu masa terpenting bagi umat untuk mempersiapkan hati menyongsong hari Paskah yang mulia itu.

Masa prapaskah yang berlangsung selama 40 hari ini juga merupakan masa berkabung atas dosa-dosa pribadi maupun umat. Sayangnya, banyak gereja yang tidak membawa umatnya memfokuskan diri pada masa berkabung ini, masa di mana dosa-dosa umat dilunasi melalui penyiksaan brutal terhadap Yesus Kristus. Adalah mustahil bila umat diajak bersuka ria pada kebangkitan Yesus jika tidak mengalami penyesalan dan perkabungan atas dosa-dosanya dan pertobatan menyeluruh setelah pelunasan dan penebusan dikerjakan secara cuma-cuma tapi sempurna oleh Yesus Kristus.

Diawali dengan Rabu Abu dan berakhir pada Sabtu petang sebelum Minggu Paskah (hari Minggu pada masa Prapaskah tidak diperingati sebagai masa Prapaskah). Hari-hari Minggu pada masa Prapaskah tetap diperingati sebagai perayaan mingguan atas karya keselamatan Kristus melalui kebangkitan-Nya. Banyak denominasi Kristen Protestan yang sekarng mendorong umatNya untuk membaharui dan memperkuat iman mereka melalui masa Prapaskah ini. Banyak yang dapat dikerjakan untuk mengisi masa-masa meditatif ini, seperti: jam-jam doa khusus, Bible Study, berpuasa, pelayanan kasih (pengorbanan) dan kebaktian/ibadah-ibadah.

RABU ABU

ini adalah titik awal dari masa Prapaskah. Sejak berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi tanda perkabungan juga pertobatan. Misalnya dalam kitab Ester dan Yunus. Bapa Pius Paarsch dalam bukunya “The Church’s Year of Grace“, menyatakan bahwa Rabu Abu pertama terjadi di Taman Eden, setelah Adam dan Hawa berbuat dosa. Tuhan mengingatkan keduanya bahwa mereka berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu. (Kejadian 3:19).

Ibadahnya kaya akan ritual dan simbol-simbol. Abu yang dikumpulkan dari pembakaran daun-daun palma pada masa Prapaskah tahun sebelumnya digunakan dalam ibadah Rabu Abu sebagai simbol penyerahan diri kepada kuasa Allah. Umat maju ke depan untuk ditandai dahi mereka dengan abu seraya Majelis atau Pendeta membacakan Kejadian 3: 19. Dengan kata-kata tersebut, umat diingatkan akan mortalitasnya, dan tanda salib yang dibuat dari debu/abu di dahi, umat diingatkan akan pengharapan akan kebangkitan kembali. Rabu Abu merupakan titik awal Masa Prapaskah dan menyediakan waktu bagi umat Kristiani untk mengeksplorasi misteri dari Injil dan menghayati hidup baru di dalam Kristus.

MINGGU PALMA

Saat tersebut adalah hari peringatan dalam liturgi gereja Kristen yang selalu jatuh pada hari Minggu sebelum Paskah. Perayaan ini merujuk kepada peristiwa yang dicatat pada empat Injil, yaitu Markus 11:1-11, Matius 21:1-11, Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19. Dalam perayaan ini dikenang peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem sebelum Ia disalibkan. Masuknya Yesus Kristus ke kota suci Yerusalem adalah hal yang istimewa, sebab terjadinya sebelum Yesus mati dan bangkit dari kematian. Itulah sebabnya Minggu Palma disebut pembuka pekan suci, yang berfokus pada pekan terakhir Yesus di kota Yerusalem.

Dalam liturgi Minggu Palma, umat dibagikan daun palem dan ruang gereja dipenuhi ornamen palem.
• Awal dari Pekan Suci.
• Peringatan tentang masuknya Mesias ke Yerusalem.
• Ibadah biasanya mencakup pembacaan kisah penderitaan – kisah penangkapan Yesus, penderitaan dan kematiannya.
Gereja merayakan masuknya Kristus ke Yerusalem untuk menggenapi misteri paskahnya, ketika menurut Kitab-kitab Injil Yesus dengan rendah hati mengendarai seekor keledai masuk ke Yerusalem. Hal ini mengingatkan akan prosesi kemenangan Daud dan rakyat meletakkan daun-daun palma di tanah di hadapannya.
 KAMIS PUTIH

Hari Kamis sebelum Minggu Paskah adalah hari untuk mengingat kembali Perjamuan Malam terakhir antara Yesus dan murid-muridNya. Kisah Yesus memecah-mecah dan memberkati roti pada jamuan Paskah, merupaan pengingat akan tubuhNya yang diberikan secara cuma-cuma bagi umat Kristiani, seperti yang disaksikan pada kitab Matius, Markus, dan Lukas. Kisah Yesus membasuh kaki para murid adalah pengingat akan kerendahan-Nya yang radikal untuk menjadi pelayan bagi umatNya dan dibuktikan secara sempurna di kayu salib.

 

JUMAT AGUNG

Hari Jumat sebelum Minggu Paskah adalah waktu untuk mengingat akan penyaliban dan kematian Yesus. Banyak yang bertanya-tanya mengapa hari ini disebut “Good Friday”. Istilah “good” dalam GOOD FRIDAY menginatkan umat Kristiani akan kehidupan Yesus yang tidak bercela, baik dan taat. Beberapa gereja melakukan ibadah mereka antara jam 12 sampai jam 3 sore untuk memeringati jam-jam kematian Yesus Kristus, yakni ketika langkit menjadi gelap gulita saat Yesus menderita menahan siksa dan mati. Banyak pula jemaat yang mendasarkan liturgi ibadah Jumat Agung-nya pada kata-kata terakhir Yesus di kayu salib.

 

SABTU SUNYI/SABTU TEDUH

Bahasa Latin untuk hari khusus ini adaah Sabbatum Sanctum – Hari Sabat Suci. Sabtu Teduh (sebagaimana GPIB menyebutnya) merupakan hari tenang pada Pekan Suci yang dilaksanakan oleh orang Kristen sebagai persiapan perayaan Paskah. Hari Sabtu Teduh merupakan saat di mana tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur setelah wafat pada hari Jumat Agung.

Kegiatan lainnya yang dilakukan pada masa Prapaskah adalah “Tenebrae”, yang diambil dari bahasa latin, yang berarti “bayangan” atau “kegelapan”. Hal yang unik dari ibadah Tenebrae ini adalah meniup satu per satu lilin sampai seisi ruangan ibadah menjadi gelap gulita. Kegelapan itu menandakan waktu/hari ketika Yesus berada di dalam kubur. Ibadah ini dapat diadakan pada Kamis Putih, Jumat Agung, atau Sabtu Teduh. Bacaan Alkitab yang dipakai pada ibadah ini biasanya terambil dari Injil tentang Perjamuan Terakhir sampai penyaliban Yesus, termasuk kata-kata terakhir Yesus di kayu salib. Ibadah diakhiri dengan penyalaan satu lilin, untuk mengingatkan kepada jemaat bahwa kegelapan tidak akan berkuasa, dan Terang Paskah akan bersinar kembali.

 Kesimpulan

Banyak umat Kristiani dan gereja yang tidak mempersiapkan masa Prapaskah ini dengan sungguh-sungguh dan bahkan menghilangkan elemen-elemen pembentukanya, sehingga terjadi distorsi dalam pengenalan mereka akan “Passion of Christ”, atau penderitaan Yesus (karena kasihNya) itu.

Dalam kaitannya dengan berpuasa, maka Masa Prapaskah adalah ‘perjalanan’ selama 40 hari bagi setiap umat untuk:

✓ Berpuasa terhadap kemarahan, dan membuka diri untuk kesabaran

✓ Berpuasa terhadap kekecewaan, dan membuka diri untuk pengharapan

✓ Berpuasa terhadap pementingan diri, dan membuka diri untuk mengasihi orang lain

✓ Berpuasa terhadap kemalasan, dan membuka diri untuk pertumbuhan yang luar biasa

✓ Berpuasa terhadap kemalasan, dan membuka diri untuk antusasme

✓ Berpuasa terhadap kepedihan, dan membuka diri pada kesuka-citaan

✓ Berpuasa terhadap ketidaktulusan, dan membuka diri untuk kejujuran

✓ Berpuasa terhadap kekurangan, dan membuka diri untuk kebercukupan

✓ Berpuasa terhadap kebencian, dan membuka diri untuk pengampunan

✓ Berpuasa terhadap individualisme dan membuka diri bagi kesetiakawanan

 

GPIB memuat SIKLUS PASKAH di atas dalam buku TATA IBADAH I, 2A. Mengingat pentingnya masa ini bagi umat dan gereja untuk melakukan persiapan batin pribadi dan umat demi menyongsong mulianya Minggu Paskah, maka jemaat GPIB sudah seharusnya dapat merespon kebutuhan tersebut untuk melaksanakan masa Prapaskah dengan lebih matang dan bukan sekedar mengikuti tradisi gereja semata.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Natal: “Happy Birthday, Jesus”?

Kalau ditanya hari raya apa yang paling ditunggu-tunggu selama satu tahun, saya yakin banyak dari kita yang menjawab: NATAL! Tak bisa dipungkiri, Natal menjadi saat yang paling membawa sukacita bagi banyak kalangan Kristen. Namun, ternyata sukacita itu tidak hanya menjadi bagian kita, tapi bagi banyak orang yang non-Kristen sekalipun. Ya, karena Natal sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat global. Natal menjadi sebuah masa raya di penghujung tahun bagi banyak orang, tanpa batas usia, bangsa, dan agama atau keyakinan. Hari raya ini identik dengan lampu kerlap-kerlip dan ornamen yang menghiasi pohon-pohon cemara dalam beragam ukuran dan warna yang ditempatkan di banyak tempat publik, tidak hanya di gereja atau rumah-rumah orang Kristen.

Lagu-lagu sekuler (tanpa kandungan unsur teologis/doctrinal) bernuansa Natal kerap diputar dan disenandungkan oleh banyak orang. Sebut saja Jingle Bells, Have Yourself a Merry Little Christmas, I’m Dreaming of a White Christmas dan We Wish You A Merry Christmas. Siapa yang tidak kenal dengan lagu-lagu tersebut?

Dalam sebuah survey di debate.org. (sebuah situs terkemuka yang dibuat khusus bagi penggemar debat), 76% pendebat mengatakan setuju pada pertanyaan “Can you celebrate Christmas if you are not Christian?” (Bolehkah anda merayakan Natal padahal kamu bukan orang Kristen?), sementara 24% lainnya tidak. Salah satu yang setuju menulis seperti ini: “Bukankah Natal itu adalah tentang kelahiran Yesus? Hadiah ulang tahun terbaik yang dapat diberikan bagi Dia adalah mengasihi satu dengan yang lain. Yesus berkata di Alkitab bahwa dia mengajak semua orang untuk mengikut Dia. Lalu, kenapa hal itu tidak kita lakukan saat ulang-tahunNya? Meskipun Anda bukan Kristen, saya katakana bahwa Anda berhak merayakan hari Natal karena tak ada yang boleh menghentikan Anda melakukannya. Itu hak Anda.;)”

Untuk yang tidak setuju dalam debat dengan topic tersebut, ada sebuah argumen menarik yang disampaikan, yakni “Saya tidak mengerti mengapa non-kristen merayakan Natal, karena hakikinya Natal adalah hari besar merayakan kelahiran Yesus Kristus. Kita memberikan kado pada perayaan Natal karena Tuhan telah lebih dulu memberikan kado terbaik dalam hidup umatNya, yakni Anak-Nya yang tak berdosa untuk mati bagi kita. Orang non-Kristen yang ikut-ikutan merayakan Natal itu seperti orang Kristen yang merayakan Waisak padahal bukan penganut agama Budha, atau merayakan Hanukkah padahal bukan orang Yahudi.”

Wuih….melihat perdebatan seputar perayaan Natal memang seru ya. Kita tak perlu ikut-ikutan kaget atau resah mengenai hal itu kok, karena memang suka atau tidak, Natal memang membawa ‘rasa’ tersendiri bagi banyak orang, terlepas keyakinan mereka.

Nah, untuk kita sendiri, apa yang kita tahu seputar tanggal ‘keramat’ 25 Desember itu dan mengapa tanggal itu ditunjuk sebagai hari Natal? Sebetulnya….Natal itu apa ya?

Kata “Natal” adalah bahasa Portugis, yang berasal dari bahasa Latin Natalis, lengkapnya Dies Natalis, yang berarti Hari Lahir. Latar belakang historis perayaan Natal sebagai ‘hari kelahiran’ Yesus Kristus ini tidak akan kita temukan dalam Alkitab. Tidak ada tanggal ataupun musim yang menyebutkan persis kala mana Dia lahir.

Sumber historis yang digunakan oleh banyak kalangan, termasuk GPIB, adalah tradisi merayakan Dies Natalis Sol Invictus (Hari Lahir Sang Matahari yang tak terkalahkan) yang dilakukan di Kerajaan Romawi sampai abad ke-4 pada setiap tanggal 25 Desember (saat musim dingin). Pengertiannya dihubungkan pula dengan penyembahan kaisar sebagai dewa matahari, dan demi kehormatan sang kaisar sebagai “tuhan” maka pada abad ke-3 menetapkan hari kelahirannya pada tanggal 25 Desember. Masyarakat Romawi berpesta dan saling bertukar hadiah dan mendekorasi rumah dengan meriah. Setelah Kaisar Konstantin menjadi Kristen di tahun 332 Masehi, Kristen menjadi agama resmi di Kerajaan Roma. Di tahun 336 M, Kaisar Konstantin menetapkan tanggal 25 Desember sebagai tanggal kelahiran Yesus Kristus, berdasarkan nubuat yang tertulis di Maleakhi 4:2a “Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya.”

Sumber lainnya, yang sedikit kurang populer menyebutkan bahwa tanggal 25 Desember ini berkaitan dengan winter solstice (masa dalam setahun di mana hari-harinya pada saat siang lebih pendek dari malam), berdasarkan teori yang dikemukakan seorang sejarahwan Roma bernama Sextus Julius Africanus. Dalam konteks tersebut, ia mengemukakan Natal dipahami sebagai kristenisasi atas perayaan titik balik matahari pada musim dingin – Kristus adalah matahari kebenaran.

Ada pula perhitungan tanggal kelahiran Yesus yang bertitik tolak dari Lukas 1:26. Jikalau Tahun Baru Yahudi (awal bulan Tisyri) jatuh pada sekitar awal Oktober, maka bulan keenam jatuh sekitar bulan Maret. Apabila malaikat Gabriel datang kepada Maria pada akhir bulan keenam itu, maka akhir Desember (menurut kalender Gregorian atau Masehi yang kita pakai) adalah 9 bulan sesudahnya. Namun menurut kalender Yahudi, bulan keenam dapat dihitung dari Paska, sehingga kelahiran Yesus terjadi pada musmim panas dan kandang di Betlehem sedang kosong karena domba-domba dapat bermalam di alam terbuka.

Terkait dengan ketidak-pastian tanggal kelahiran Yesus tersebut, maka gereja mula-mula menyepakati suatu rentang waktu untuk kelahiran Yesus, yaitu antara tanggal 25 Desember sampai 6 Januari.

Duh! membingungkan ya? Lantas, pertanyaan ini kembali mengemuka, “jadi sebetulnya Yesus lahir tanggal 25 Desember atau tidak”?

Mari merenungkan bahwa issue seputar tanggal persisnya Tuhan Yesus lahir tidak sepenting peristiwa lahirnya Sang Juruselamat itu sendiri; bahwa yang kita rayakan bukanlah birthday Yesus Kristus, tapi peristiwa kelahiran-Nya yang membawa terang bagi dunia gelap yang diselimuti dosa.

Ya, sebuah perayaan bahwa Yang Mahasuci itu bersedia menghinakan Diri-Nya, mengambil rupa sebagai manusia sama seperti kita, lahir dalam keadaan tertolak oleh para pemilik penginapan di kota kecil Betlehem dan kemudian lahir juga dalam keterhinaan ketika lahirnya Ia hanya ditempatkan di sebuah palungan (tempat makan hewan ternak).

Peristiwa kelahiran Yesus merupakan penggenapan dari banyak janji-janji Allah melalui nubuat para nabi. Natal adalah bukti bahwa Allah adalah TUHAN yang menyelamatkan. Dalam kerangka kasih Allah, maka Ia selalu mengerjakan keselamatan bagi umat manusia, umat yang dibuat dalam gambar dan rupa-Nya.

Natal berarti proklamasi akan rekonsiliasi hubungan Allah dan manusia yang telah rusak dan poranda karena dosa. Proklamasi yang dinyatakan malaikat kepada para gembala 2000 tahun lalu adalah proklamasi yang sama sampai saat ini, bahwa peristiwa kelahiran Yesus merupakan kesukaan besar bagi seluruh bangsa (bukan terbatas hanya orang Yahudi saat itu atau orang-orang Kristen).

Natal berarti kepedulian kepada yang tersingkirkan. Ketika kabar itu disampaikan malaikat Tuhan kepada para gembala yang memiliki status sosial rendah menunjukkan kasih Allah yang berdaulat memilih mereka yang tersingkirkan secara sosial sebagai yang terdahulu menerima sukacita yang dinanti-nantikan. Tantangan untuk kita apakah kita mau mengambil teladan yang Allah kerjakan, yakni membawa sukacita kepada mereka yang tersingkirkan secara sosial? Ya, mereka kaum papa yang hanya mengharapkan bantuan orang untuk dapat bertahan hidup, atau mereka yang kerap kita bully tanpa sebab, atau orang-orang tua renta yang kita anggap hanya sebagai beban, atau teman-teman kita yang rendah diri tapi kita memilih tidak perduli.

Natal berarti keterpanggilan untuk terus memulialkan Allah sebagai wujud ungkapan syukur. Jika malam itu, para gembala menyaksikan malaikat bersama bala tentara surga memuji-muji Allah merayakan lahirnya Sang Juruselamat, maka kita saat ini pun merayakan hal itu dalam spirit yang sama di sepanjang musim dan waktu. Rasa terimakasih kita bagi Tuhan bukanlah melalui ungkapan “Happy Birthday, Jesus!” melalui twitter atau facebook, karena Tuhan tidak memerlukan ucapan-ucapan semacam itu. Saat lahirnya Yesus, para malaikat pun tidak mengucapkan “Congratulations, God!” atau “Selamat, Anda sudah lahir!”, namun menyatakannya melalui pujian “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Mengutip pernyataan seorang tokoh Kristen yang juga aktivis Hak Asasi Manusia kulit hitam di Amerika yakni Martin Luther King Jr.: Darkness cannot drive out darkness; only light can do that. Hate cannot drive out hate; only love can do that (Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan, hanya terang yang dapat melakukannya. Kebencian tidak akan mengusir kebencian, hanya kasih yang sanggup melakukannya), mari perkenalkan kemuliaan Tuhan Yesus yang penuh kasih itu bagi mereka yang masih terselimuti kegelapan. Hadirkan terang. Bawalah damai sejahtera dan sukacita bagi mereka, tidak hanya saat Hari Natal namun di sepanjang perjalanan hidup kita.

Selamat Hari Natal; selamat menjadi terang!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Be Careful: Yesus BUKAN Isa Almasih.

Yesus yang disaksikan di Alkitab dan adalah Tuhan dari kaum Kristiani berbeda dengan Isa (yg menurut Muslim adalah Yesus) versi Al Quran. Semua tahu bahwa Quran memuat figur Isa di beberapa ayatnya. Selain Isa, memang Quran memuat banyak sekali nabi-nabi besar Yahudi di dalam kitab suci dari kaum Arab ini.

1. Alkitab menyaksikan tentang sejarah nubuatan penebusan umat Allah sampai perealisasian janji Allah terhadap Penyelamat (Mesiah) dan hidup dalam kebenaran janji Allah tersebut. Penyelamat itu dinamakan Yesus, sesuai kesaksian Perjanjian Baru. Al Quran tidak menyediakan hal ini tentang Isa.

2. Temuan-temuan arkeologis mendukung fakta-fakta sejarah di Alkitab, termasuk hal ihwal Yesus Kristus.

3. Nubuat, jatidiri, karakter, dan tugas Yesus jelas terdapat di Alkitab. Isa sebaliknya.

4. Garis keturunan Yesus jelas di Matius dan Lukas. Khusus di Lukas, jelas disebutkan Maria adalah keturunan dari Eli. Sementara Alquran menyaksikan Maryam adalah anak dari Imran. Di Alkitab, ada nama yang ‘mirip, dengan tokoh Imran ini, yakni Amran (bapak dari Musa, Miryam dan Harun). Dengan demikian ada jurang sejarah 1,200 tahun di antara Yesus dan Isa. Belum lagi secara silsilah, Musa, Miryam dan Harun adalah dari garis keturunan Lewi, sementara Maria ibu Yesus dari keturunan Yehuda.

5. Secara etimologis, Yesus dalam bahasa Arab seharusnya adalah Yasu/Yasua. Pada Alkitab berbahasa Arab sampai 25 tahun terakhir, nama Yasu/Yasua inilah yang terdapat di Alkitab, sebelum akhirnya mereka menggantinya menjadi Isa pada Alkitab cetakan terbaru.

sumber:  http://www.amfonts.webuda.com/yeshua-yasu-isa.htm

6. Quran menyebut bayi Isa berbicara sejak lahir dari dalam ayunan/buaian. Yesus tidak, Ia lahir sebagai manusia yang normal seperti bayi-bayi lainnya.

7. Quran menyebut bayi Isa lahir di bawah pohon kurma dan tak jelas lokasinya, sementara Yesus di palungan, di sebuah kandang domba di Bethlehem.

8. Quran menyebut Isa bisa menyembuhkan orang buta sejak lahir, sementara kesaksian Alkitab tentang Yesus dalam konteks mujizat tersebut ada ketika Ia berusia 30an tahun.

9. Nama Yesus diberikan langsung oleh Allah, dalam otoritas mutlak-Nya. Bagaimana dengan nama Isa?

10. Quran menyebut bahwa Isa hanya diutus sebagai rasul untuk bani Israel, sementara Alkitab jelas berseberangan dengan itu, Yesus lahir dan terutus untuk menyelamatkan seluruh dunia.

11. Quran menyebut Isa diberikan Injil oleh Allah, sementara Yesus tidak pernah menulis Injil seperti yang ada di Alkitab.

12. Di Alkitab, tempat2/lokasi geografis pelayanan Yesus jelas terdeteksi. Hal itu tidak ada pada Alquran untuk Isa.

13. Di Alkitab, nama-nama murid Yesus dapat dikenali, sementara di Alquran tidak pernah disebut satupun nama pengikut Isa.

14. Di Alkitab, Yesus sesuai nubuatan di Perjanjian Lama, akan mengalami kematian yang mengerikan dan akan bangkit menjadi pemenang. Keempat penulis di Injil dalam Alkitab menyatakan bahwa Yesus mati tersalib dan bangkit pada hari yang ke-3. Al Quran menyaksikan Isa tidak disalib.

Jadi, tidak ada bukti sah dan mendukung dalam konteks legalitas historis yang bisa menyatakan bahwa keduanya adalah figur yang sama. Yesus nyata-nyata bukanlah Isa As.

Posted in Uncategorized | Tagged , | 11 Comments

Sebuah Tanggapan: Perceraian dalam Pernikahan Kristen? No Go.

Menanggapi sebuah postingan berjudul: “Nasip Wanita Kristen Dilecehkan Yesus dan Bapaknya dalam Alkitab“.

 

Adapun ayat-ayat yang menjadi acuan tuduhan dari yang bersangkutan adalah:

 

1. Matius 5:32

Kesimpulan sepihak:

a. Wanita Kristen bila dicerai suaminya harus selamanya menjadi janda, bila menikah lagi zinah.

b. Pada waktu itu Yesus juga mengatakan: pria Kristen hanya boleh menikahi perawan karena menikahi janda adalah zinah

 2. Ulangan 21:10-13

Kesimpulan sepihak: Pria Kristen boleh free sex dan mengambil wanita sebagai budak sex

 3. Ulangan 21:15-16

Kesimpulan sepihak: Pria Kristen boleh berpoligami

 

 

Berikut penjelasan saya:

Matius 5:32

Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.”

Sebelum masuk pada tinjauan atas Matius 5:32, baiklah kita melihat akan hakikat pernikahan Kristen:

Kehendak Allah bagi pernikahan adalah satu pasangan, satu pernikahan untuk seumur hidup, seperti yang tertera di:

– Kejadian 2:24 “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Dalam konteks Kejadian 2:20, istri yang disediakan Allah bagi Adam adalah penolong yang sepadan dengan dia, dan di ayat 23 Adam menempatkan Hawa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya sendiri, bukan sebagai benda, obyek, atau alat untuk mencapai tujuan. Pernyataan Adam di ayat 23: Inilah dia, tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku, mencerminkan bahwa Adam sudah menemukan penolong yang sepadan dan sekaligus menyatakan penerimaannya yang tulus atas pemberian Allah.

– Matius 19:6 “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia“.

Dengan demikian, alasan ketidak cocokan, tidak memiliki keturunan, atau ekonomi, dan lain-lain tidak dapat dibenarkan sebagai alasan perceraian.

Perceraian memang bukan masalah baru dalam sejarah umat manusia. Kata ini muncul pertama kali dalam kitab Musa (Imamat 21:14, 22:13, Bilangan 30:9, dan Ulangan 24:1-4). Namun meski Musa “mengizinkan” perceraian, ia tidak pernah “menganjurkan” apalagi “memerintahkan” perceraian. Perceraian terjadi semata-mata karena kekerasan hati bangsa Israel (Matius 19:8). Dengan kata lain, Alkitab tidak pernah memaklumi atau mendukung perceraian karena sejak semula perceraian bukanlah rencana Allah. Salah satu referensi adalah di Maleakhi 2:14-16:

Maleakhi 2:14-16 “Dan kamu bertanya: “Oleh karena apa?” Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan istri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan istri seperjanjianmu. Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap istri dari masa mudanya. Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel – juga oran gyang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!”

Kembali kepada perkataan Yesus di Matius 5:32, baiklah kita tengok bahwa perkataan tersebut merupakan bagian dari khotbah Yesus di Bukit yang tercatat dalam sebuah rangkaian khotbah yang panjang (pasal 5 – 7, total: 111 ayat) berisi penyataan dari prinsip-prinsup kebenaran Allah dengan mana semua orang Kristen harus hidup oleh iman kepada Yesus, antara lain: Ucapan bahagia (5:1-12), Garam dan terang (5:13-16), Yesus dan Hukum Taurat  (5:17-20), Hal Membunuh (5:21-26), Hal berzinah (5:27-30), Hal bercerai (5:31-32), Hal bersumpah (5:33-37), Hal mata ganti mata (5:38-42), Hal mengasihi musuh (5:43-48), Hal memberi sedekah (6:1-4), Hal berdoa (6:5-15), Hal berpuasa (6:16-18).

Berkenaan dengan Matius 5:32, memang sering disalah-tafsirkan orang. Mereka menganggap bahwa Yesus menyetujui perceraian atau merestuinya. Padahal, perkataan saat itu tidak dapat dipisahkan dari situasi dialog yang terjadi saat itu. Kata “kecuali” dalam perkataan Yesus itu sebenarnya menunjuk kepada kekerasan hati orang Israel (sehingga Musa mengizinkan perceraian), tetapi sekali-kali Yesus tidak “memerintahkan” perceraian.

Oleh karenanya, Yesus menegaskan, “….siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah”, bandingkan dengan Lukas 16:18, Matius 19:9, Markus 10:11. Hal yang sama juga berlaku untuk peremuan, yakni “Dan jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah (Markus 10:12).

Dari pernyataan tersebut jelas sekali bahwa Yesus tidak pernah menyetujui dan menganjurkan perceraian sebagai cara untuk menyelesaikan kemelut rumah tangga.

Tadi telah disampaikan ayat-ayat pembanding dari Matius 5:32,yakni seperti Matius 19:9. Berikut cuplikan ayat tersebut: “Tetapi Aku berkata kepadamu, Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zinah lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”

Yesus mengerti betul bahwa maksud dari perkataan-Nya itu akan menuai pendapat yang berbeda-beda, dan karenanya, di ayat ke 11-12, di mana Ia berkata: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu hanya mereka yang dikaruniai saja… Siapa yang megerti hendaklah ia mengerti.”

Terhadap peraturan ini, karena didasarkan atas kekerasan hati orang Israel, Yesus memberikan satu perkecualian, yaitu “zinah”. Perzinahan (dlm bahasa Yunani: poerneia, dalam bahasa Inggris: fornication) meliputi segala macam bentuk kebejatan seksual. Oleh karena itu, perceraian diizinkan apabila telah terjadi kebejatan seksual.

Berikut ini ada fakta alkitabiah yang penting mengenai perceraian:

(1) Ketika Yesus mengecam perceraian dalam ayat di Matius 19:7-8, yang dikecam bukanlah perpisahan karena zinah, melainkan perceraian yang diizinkan dalam masa Perjanjian Lama (PL). Yesus menginginkan agar dalam kasus semacam itu pasangan suami istri tetap bersatu. Akan tetapi, Ia mengizinkan perceraian dalam kasus semacam itu karena manusia sudah keras hatinya.

(2) Dalam kasus perzinahan sesudah pernikahan, hukum PL mengizinkan terputusnya hubungan pernikahan itu dengan menghukum mati kedua belah pihak yang bersalah (Imamat 20:10, Ulangan 22:22). Tentu saja, hal ini akan membebaskan orang yang tidak berdosa untuk menikah kembali.

Roma 7:2 “Sebab seorang istri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suami itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu.”

1 Korintus 7:39 “Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya.

(3) Di bawah perjanjian yang baru syarat-syarat bagi orang percaya sama saja. Sekalipun perceraian adalah peristiwa yang menyedihkan, ketidaksetiaan dalam hubungan pernikahan merupakan dosa yang begitu kejam terhadap pasangan dalam pernikahan.

 

Dengan demikian, kesimpulan-kesimpulan sepihak yang dituduhkan adalah tuduhan yang sama sekali tidak perlu, sebabYesus menolak perceraian, karena perceraian bukan merupakan kehendak Allah.

Adalah hal yang amat menggelikan ketika klaim yang diajukan pun menggunakan judul “Nasip Wanita Kristen Dilecehkan Yesus dan Bapaknya” dengan mengambil sepotong-sepotong ayat tanpa memahami konteks penulisan secara menyeluruh. Dalam konteks pernikahan, Yesus jelas dan tegas menolak perzinahan, perceraian dan poligami.

Di dalam Kristus tidak ada pelecehan terhadap wanita  karena iman Kristen tidak pernah mengajarkan suami untuk memukul istri (Kolose 3:18-19, Efesus 5:25-33), tidak ada penilaian bahwa status perempuan (istri) ada satu derajat lebih rendah dari laki-laki (Galatia 3:28-29). Karena Yesus menolak perceraian dan poligami, maka Ia tidak pernah memberikan perintah kepada pria untuk beristri lebih dari satu serta pengaturan penggiliran isteri.

Mengenai perzinahan, Yesus mengambil langkah yang lebih esktrim dengan menyebutkan “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya…. jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkilah dan buanglah itu.” Yesus mengharuskan setiap laki-laki untuk mengontrol tingkah-lakunya.  Dari sini kita tahu bahwa Yesus membela kaum perempuan bukan menyalahkan mereka (sehingga tidak ada perintah Yesus bahwa perempuan harus mengenakan pakaian tertentu supaya tidak diganggu oleh kaum pria). 

Menjadi orang Kristen memang tidak mudah, karena menuntut kesetiaan kepada kehendak Allah termasuk kesetiaan kepada komitmennya terhadap pasangan hidupnya untuk hidup bersama dalam bahtera kasih Allah. Komitmen ini juga mengajarkan kepada pasangan tentang nilai-nilai pengampunan yang diajarkan dan diejawantahkan dalam Pribadi Yesus Kristus. Seberat apapun pelanggaran yang dilakukan oleh pasangan dalam pernikahan, ketika mengingat Pribadi Agung tersebut, maka setiap insan dikuatkan untuk memberikan pengampunan dan kasih mesra seperti yang Allah telah tunjukkan melalui Yesus Kristus.

Gereja mempersiapkan pasangan yang akan menikah melalui serangkaian konseling pra-nikah untuk membekali mereka dengan matang untuk dapat menerima keadaan terburuk atau membina rumah tangga yang permanen. Pernikahan Kristen diberkati di gereja dan dilakukan di hadapan Allah dan jemaat sebagai saksi dilakukan agar kesetiaan kepada janji iman kepada Allah dimanifestasikan juga kepadaa janji nikah kepada pasangannya dan jemaat sebagai saksi pernikahan bertugas untuk mengambil peran dalam mendukung pasangan baru tersebut di dalam persekutan berkesinambungan di gereja dan menjalani pengalaman iman bersama-sama untuk saling menguatkan.

Mengenai klaim sepihak lainnya yang bersumber dari kitab-kitab di Perjanjian Lama, dengan sendirinya gugur karena yang disebut sebagai orang Kristen adalah pengikut Yesus Kristus yakni mereka yang beriman dan hidup sesuai dengan ajaran Kristus, bukan pengikut Musa.

Sekian dan Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Tagged , | 2 Comments

History Matters – The Bible

In certain perspective, we can say that Bible is a historical document. It conveys vast information about history and culture, although the central message of the Bible is not just an ordinary archival information.

The Bible communicates a ‘rescue mission’ that is transformed through a human history. The Bible conveys something unique and characteristic: a history that represents a suitable environment for God’s revelation. Therefore, the Biblical history is not in the same sense as the common history.

The most important thing is that history in the Bible contains a foundation of a religion. This means, Bible is not only a profound historical document, but also a holy history. Biblical history has a special dimension: a history of a salvation.

The two terms: history and salvation are exchangeable; a history that brings salvation, and salvation that brings history. In other words, either way demonstrates a spirituality of all the events which are invisible through eyes of the ordinary history. Reports of each event recorded in the Bible were written in the perspective of God’s salvation, from Genesis to Revelation.

God has chosen you and me to be among the people of his kingdom, to be a part of the exceptional history. He initiates and concludes the salvation for all the world, so everyone who believes in him will walk in his abundant mercy and grace. Be grateful.

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

PASKA, Apakah itu?

Kata Paskah yang kita kenal berasal dari bahsa Portugis: Pasca, yang dikembangkan dari bahasa Ibrani Pesakh yang berarti “lewat”. Yang lewat itu adalah malaikat maut, yang dilewati adalah maut itu sendiri. Kata Ibrani Pesakh, dalam bahasa Yunani disebut Paskha.

Sejak keluarnya bangsa Israel dari Mesir sekitar tahun 1445 SM, orang Ibrani (yang kemudian disebut Yahudi) telah merayakan Paskah setiap tahun pada musim semi (umumnya dekat dengan Jumat Agung dan Paskah yang dikenal oleh umat Kristen sekarang).

Setelah menjadi budak di Mesir selama lebih dari 400 tahun, Allah menetapkan untuk melepaskan keturunan Abraham, Ishak dan Yakub dari perbudakan. Ia mengutus Musa untuk mendatangkan berbagai tulah kepada Mesir namun Firaun masih tetap tidak bersedia melepaskan bangsa Israel. Pada tulah ke-10 lah (Keluaran 12) Allah mengharuskan orang Mesir untuk membiarkan orang Israel pergi.  Tulah ke-10 adalah ketika Allah memerintahkan malaikat maut untuk mengambil nyawa setiap anak sulung (baik orang Mesir maupun hewan piaraan mereka).

Bagaimana dengan nasib orang Israel yang tinggal di Mesir? Bagaimana Allah mengenali mana anak sulung dari bangsa Israel dan yang mana dari bangsa Mesir? Tuhan memberi perintah bagi setiap keluarga Israel untuk menyembelih seekor anak domba jantan berumur 1 tahun yang tidak bercela pada saat senja, tanggal 14 bulan Abab, keluarga yang kecil dapat berbagi anak domba sembelihan. Sebagian darah anak domba itu harus dipercikkan ke tiang-tiang pintu dan ambang atas rumah mereka, sehingga ketika malaikat maut lewat, mereka terlewati dari cengkeraman maut.  Allah memerintahkan tanda darah bukan karena Ia tidak mampu mengenali umatNya sendiri, namun Ia mengajarkan pentingnya ketaatan bagi bangsa Israel dan pentingnya penebusan darah melalui domba tak bercacat itu.

Pada malam itu juga bangsa Israel harus bersegera untuk berangkat keluar dari Mesir. Mereka harus memanggang domba sembelihan, menyediakan sayur pahit dan roti tidak beragi. Ketika malam tiba, mereka bersiap menyantap makanan itu dan berangkat keluar dari Mesir.

Sejak saat yang bersejarah itu, umat Israel senantiasa merayakan Paskah setiap tahun. Ketika Bait Suci selesai dibangun, Allah mmerintahkan bahwa perayaan Paskah dan penyembelihan anak domba dilaksanakan di Yerusalem (Ulangan 16:1-6, 2 Raja-raja 23:21-23; 2 Tawarikh 30:1-20; 35:1-19, Ezra 6:19-22).

Orang Yahudi di masa Perjanjian Baru juga merayakan Paskah. Alkitab mencatat bahwa orang tua Yesus pernah mengajakNya merayakan Paskah di Yerusalem ketika usiaNya 12 tahun (Lukas 2:41-50). Kemudian hari Yesus secara rutin pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah (Yohanes 2:13), perjamuan terakhirNya dengan para murid di Yerusalem, sesaat sebelum disalib juga merupakan perjamuan Paskah (Matius 26:1-2, 17-29). Yesus sendiri disalibkan pada hari raya Paskah (hari raya Yahudi itu).

Orang-orang Yahudi saat ini masih merayakan Paskah, tradisi mereka itu, walaupun sifatnya sudah agak berubah, karena Bait Suci sudah tidak ada lagi di Yerusalem. Mereka merayakannya di rumah-rumah dan secara turun-temurun menceritakan kedahsyatan kuasa Allah dalam penyelamatan keluaran mereka dari Mesir.

Kembali melihat pada arti kata Pesakh, atau Pasca, yang berarti “lewat”, bila menggunakan kaidah bahasa Indonesia, seharusnya kita menggunakan kata Paska, seperti yang biasa digunakan pada frasa paska-kelahiran, paska-pelembagaan, dan lain sebagainya. Namun, dalam kaidah teologis, gereja tetap memilih untuk menggunakan kata Paskah.

Dalam kalender gereja, terdapat Trihari Paskah terdiri atas Jumat Agung, Sabtu Teduh, dan Paskah.

Jumat Agung merupakan peringatan kematian Yesus di kayu salib, di Golgota. Bahwa Yesus bersedia mengorbankan tubuh dan darahNya untuk menebus dan menyelamatkan manusia seisi dunia.

Darah anak domba tak bercacat yang dipercikkan di tiang-tiang dan ambang pintu rumah pada zaman perbudakan di Mesir dimaksudkan untuk menyelamatkan umat Israel dari maut, begitupun dengan darah Yesus yang tidak bernoda bagi keselamatan kita manusia.

Memakan domba sembelihan saat malam ketika bangsa Israel bersiap keluar dari Mesir merupakan pemanunggalan masyarakat Israel dengan korban/kematian anak domba itu, kematian yang menyelamatkan mereka dari kematian jasmaniah (mengenyangkan mereka untuk mempersiapkan fisik mereka berangkat keluar dari Mesir). Umat Kristen memaknai pemanunggalan itu melalui Perjamuan Kudus yang dilakukan dalam ibadah Jumat Agung.

Sabtu Teduh jatuh pada Hari Ketujuh, Hari Sabat, Hari Perhentian, Hari Istirahat, dan Tubuh Yesus terbaring di kubur.

Paskah yang dirayakan umat Kristiani (gereja) memiliki pemaknaan yang berbeda dengan yang dirayakan oleh bangsa Yahudi (Pesakh). Paskah Kristen berarti hari kebangkitan Yesus Kristus, bukti Ia telah menang dan melewati kematian/maut. Paskah pertanda penggenapan keselamatan Allah. Berdasarkan pemahaman ini, Paskah jatuh pada Hari Pertama (Arab: Akhad, Ibrani: Ekhad – referensi teologisnya ada di Kejadian 1:5, Matius 28:1, Markus 16:2, Lukas 24:1, Yohanes 20:1). Hari Pertama adalah Hari Minggu. Kata “Minggu” berasal dari bahasa Portugis Dominggu(s) dan Latin Dominus, yang berarti Tuhan. Karena itu Hari Minggu adalah hari Tuhan. Berdasarkan spirit Paskah, sebagai hari kemenangan Kristus atas maut, maka umat Kristiani merayakan dan menghayati karya penebusan Allah itu melalui persekutuan umat Allah dalam ibadah-ibadah Minggu sepanjang tahun.

Bila Allah dulu mengeluarkan Israel dari Mesir bukan karena mereka itu layak, namun karena Ia mengasihi mereka dan setia kepada perjanjianNya dengan Abraham. Demikian pula keselamatan yang kita terima dari Kristus ialah melalui karunia-Nya yang menakjubkan itu.

Paskah adalah hari raya utama dalah Kekristenan karena merupakan titik tolak iman orang percaya (I Korintus 15:14).

Paskah Kristus berarti Ia telah menyelamatkan umatnya melewati perbudakan maut, dengan menjadikan diri-Nya sendiri anak domba Paskah, dan manusia boleh berjalan dalam ketaatan dan iman kepada Allah Bapa. Paskah Kristus melalui kebangkitan-Nya membuktikan bahwa kematian Yesus cukup untuk membayar segalanya, dan penyelamatan-Nya melalui kebangkitan dari alam maut dilakukan “menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Efesus 1:7). Sebuah harga penebusan yang mahal. Itulah kasih Kristus. Tour de grace.

Selamat menyongsong dan merayakan Paskah. Tuhan telah menebusmu.

Sumber:

– Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan

– Tata Ibadah GPIB – Buku I, 2A, Ketetapan Persidangan SInode XIX – GPIB

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Ibadah Kristen, simply different from the rest

Istilah “ibadah” berasal dari bahasa Arab, yang secara etimologis sama dengan kata yang sama dalam bahasa Ibrani “abodah” yang berarti pengabdian kepada Tuhan. Jadi beribadah = mengabdi kepada Tuhan. Istilah “ibadah” mempunyai arti yang sama dengan “kebaktian” uang diturunkan dari bahasa Sansekerta, yang artinya berbuat bakti kepada Tuhan.

Ibadah merupakan kegiatan utama yang dapat ditemui dalam semua agama. Walaupun demikian, pemahaman tentang ibadah serta bentuk dan tatanan ibadah di masing-masing agama berbeda-beda, baik bentuk, isi, maupun tujuannya. Jika di dalam agama-agama non Kristen “ibadah” dipahami sebagai upaya manusia untuk memperoleh berkat/pahala/reward dari Tuhan, maka “ibadah” Kristen dipahami sebagai suatu ungkapan syukur atas berkat yang Tuhan sudah berikan kepada umatNya, khususnya atas karya penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus.

Selanjutnya di bawah ini adalah pemahaman ibadah menurut iman Kristen.

Ibadah adalah perayaan (ritual) dan penghayatan (aktual) umat atas perbuatan penyelamatan Allah bagi seisi bumi, berlaku untuk segala mahluk, tanpa membatasi jenis mahluk – suku – agama – ras. Karena itu, ibadah bukan merupakan upaya umat untuk memperoleh atau menggapai keselamatan, melainkan sebagai jawaban umat atas keselamatan yang telah dikaruniakan Allah.

Ibadah sebagai perayaan (ritual) terjadi dalam pertemuan umat dengan Tuhan untuk memperingati perbuatan penyelamatan Allah dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Karena itu pusat ibadah adalah Yesus Kristus, Firman yang hidup itu.

Kata “memperingati” di sini bukan dalam arti mengenang kembali atau menggali ingatan kita tentang peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau. Tetapi “memperingati” mengandung arti menghadirkan atau mengaktualisasikan peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu untuk dialami kembali pada masa kini. Peristiwa yang diaktualisasikan dalam ibadah Kristen adalah peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus.  

Ketika umat mengaktualisasikan peristiwa tersebut, Tuhan berkenan hadir. Oleh sebab itu, ibadah menjadi pertemuan antara umat dengan Tuhan, di mana pertemuan tersebut berlangsung secara dialogis, bukan monolog. Itulah hakikat ibadah bagi gereja. Pertemuan dialogis itu disusun secara baik dan teratur dalam jalinan rumpun-rumpun ibadah yang dikenal dengan nama liturgia. 

Ibadah sebagai pertemuan umat dengan Tuhan yang telah dialami akan mempengaruhi serta mewarnai kehidupan umat setiap hari. Dengan kata lain, ibadah ritual selalu harus bermuara dalam kehidupan umat sehari-hari. Ibadah ritual berlanjut menjadi ibadah aktual (kehidupan nyata).

Menutup tulisan ini, kembali ditekankan bahwa – baik ritual maupun aktual – ibadah merupakan jawaban (berupa ungkapan syukur) atas karya penyelamatan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. Soli Deo gloria. 

Posted in Uncategorized | Tagged | 2 Comments